
Waktu lo mikirin bek kiri top dari era 2010-an, mungkin nama-nama kayak Marcelo, Alba, atau Alex Sandro langsung muncul. Tapi pecinta Serie A pasti masih inget satu nama ini: Faouzi Ghoulam.
Dia bukan pemain yang doyan gaya, tapi ketika main di sayap kiri Napoli, dia kayak pelayan setia — ngasih crossing akurat, ngatur tempo dari flank, dan bantu tim bertahan sekaligus nyerang tanpa banyak ribet.
Dan saat Napoli lagi di puncak-puncaknya bareng Higuaín, Mertens, Insigne, dan Hamsik — Ghoulam jadi bagian penting puzzle itu. Tapi kariernya? Naik secepat itu, dan sayangnya… turun lebih cepat lagi.
Awal Karier: Dari Saint-Étienne ke Dunia
Faouzi Ghoulam lahir di Saint-Priest-en-Jarez, Prancis, tahun 1991, dari keluarga berdarah Aljazair. Dari kecil, dia udah gabung akademi AS Saint-Étienne — salah satu klub dengan tradisi kuat di Prancis.
Dia debut profesional bareng Saint-Étienne tahun 2010. Awalnya biasa aja. Tapi musim demi musim, dia nunjukin kalau dia punya skillset unik buat bek kiri:
- Bisa bertahan rapi
- Crossing-nya gak asal-asalan
- Stamina luar biasa
- Dan bisa baca permainan dengan dewasa
Performanya di Ligue 1 langsung dilirik oleh banyak klub. Dan saat Rafa Benítez lagi butuh full-back baru buat Napoli, Ghoulam langsung dikunci.
Gabung Napoli: Transisi Mulus, Performa Konsisten
Tahun 2014, Ghoulam resmi pindah ke Napoli. Banyak yang skeptis karena waktu itu Serie A dikenal lebih keras dan taktis daripada Ligue 1. Tapi Ghoulam gak butuh waktu lama buat adaptasi.
Dia langsung jadi pilihan utama di posisi bek kiri. Lawan siapa pun, dia tetap stabil. Dia bukan tipe bek yang overlap tiap menit kayak Marcelo, tapi justru itu yang bikin dia beda.
Dia tau kapan naik, kapan stay. Dia jarang banget bikin blunder, dan setiap crossing-nya… udah kayak GPS: tepat ke kepala Higuaín atau kaki Mertens.
Dan dia bukan cuma “bagian dari tim.” Dia jadi motor dari sisi kiri Napoli. Bahkan, kalau lo cek statistik assist dari bek kiri Serie A di era 2015–2017, nama Ghoulam selalu ada di top 5.
Era Sarri: Ghoulam di Level Tertinggi
Puncaknya datang saat Maurizio Sarri jadi pelatih Napoli.
Formasi 4-3-3 yang dia terapkan bikin Ghoulam punya peran krusial.
Dia jadi kombinasi sempurna dari:
- Bek bertahan disiplin
- Full-back modern yang bantu build-up
- Crossing machine dari sisi kiri
Napoli main cepat, dinamis, dan full rotasi. Tapi posisi Ghoulam gak tergantikan.
Musim 2016/17 dan awal 2017/18 jadi golden era-nya Ghoulam. Dia:
- Rajin bikin assist
- Nge-cover sisi kiri yang kadang ditinggal Insigne
- Bahkan nyetak beberapa gol dari open play dan penalti
Fans Napoli waktu itu percaya: Ghoulam = full-back kelas dunia.
Dan banyak klub Eropa mulai ngelirik, termasuk Manchester United dan Chelsea.
Skillset: Gak Heboh, Tapi Efektif Banget
Apa sih yang bikin Ghoulam beda dari bek kiri kebanyakan?
- Crossing Akurat – Gak asal angkat bola. Dia selalu ambil waktu buat ngeliat pergerakan striker. Banyak gol Napoli hasil dari assist-nya.
- One-Touch Passing – Sering banget dia kombinasi sama Hamsik dan Insigne dalam tiga sentuhan, ngelewatin dua pemain.
- Defensif yang Rapi – Dia jarang panik. Tau kapan tekel, kapan jaga jarak. Positioning-nya keren.
- Stamina Gokil – Main 90 menit di posisi flank Serie A yang berat? Ghoulam siap. Hampir gak pernah minta diganti sebelum cedera mulai datang.
Cedera: Ketika Fisik Nolak Lanjut
Nah, inilah titik balik tragisnya. Tahun 2017, saat performa dia lagi di level tertinggi, Ghoulam cedera lutut ACL.
Dan setelah itu? Kariernya gak pernah sama lagi.
Dia sempat balik musim berikutnya, tapi cedera balik lagi — kali ini lutut yang satunya.
Total, dia absen lebih dari satu musim penuh.
Dan buat pemain yang mengandalkan fisik dan kecepatan, itu jadi pukulan telak.
Saat dia balik, Napoli udah ganti pelatih. Gaya main berubah. Posisi bek kiri udah diisi pemain baru.
Dan Ghoulam mulai masuk bangku cadangan… pelan-pelan dilupakan.
Sisa Karier: Dari Napoli ke Pojok Sorotan
Ghoulam bertahan di Napoli sampai 2022. Tapi sejak 2018, menit mainnya jauh berkurang. Dia cuma tampil di laga-laga kecil atau jadi pelapis.
Padahal, sebelum cedera, dia sempat disebut-sebut sebagai bek kiri terbaik di Serie A — bahkan ada yang bilang dia layak masuk top 10 Eropa.
Setelah kontraknya habis, dia sempat berlatih mandiri cukup lama sebelum akhirnya pindah ke Angers SCO di Prancis pada 2023. Tapi waktunya udah lewat. Dia gak lagi jadi Ghoulam yang dulu — secara fisik maupun intensitas.
Timnas Aljazair: Pahlawan Sunyi
Di level internasional, Ghoulam punya 37 caps untuk timnas Aljazair. Dia jadi bagian dari skuad Piala Dunia 2014, saat Aljazair tampil luar biasa dan tembus ke babak 16 besar.
Tapi sayangnya, di Piala Afrika 2019 saat Aljazair jadi juara, dia gak ikut karena cedera. Itu jadi momen paling pahit — negaranya juara, tapi dia cuma bisa nonton dari rumah.
Meski begitu, banyak fans tetap nganggep dia legenda. Karena saat timnas masih berjuang dari bawah, Ghoulam udah setia di belakang dan jadi pion penting di masa transisi.
Legacy: Bukan Tentang Berapa Lama, Tapi Seberapa Besar Dampaknya
Ghoulam bukan pemain yang punya CV dengan belasan trofi. Tapi pengaruhnya di Napoli — terutama era Sarri — gak bisa dihapus gitu aja.
Dia:
- Jadi penyumbang assist terbanyak dari full-back Serie A dalam beberapa musim
- Jadi alasan kenapa Napoli bisa main atraktif dengan sistem sayap aktif
- Bikin fans Aljazair bangga karena bersaing di level tertinggi Eropa
- Dikenal sebagai pemain low profile tapi profesional banget
Dan yang paling penting, dia nunjukin bahwa meski karier bisa dipotong paksa sama cedera, kelas itu gak bisa dihapus begitu aja.