🟢 Deskripsi Meta
Gunung Bertuah di Cirebon dulunya dikenal sakral dan menyimpan nilai budaya. Kini, keindahannya rusak akibat tambang Galian C. Simak kisah pilu dan harapan pemulihan kawasan ini.

Gunung Bertuah, sebuah bukit kecil di wilayah timur Kabupaten Cirebon, dulunya dikenal sebagai tempat sakral oleh masyarakat lokal. Dikenal sebagai tempat bertapa para leluhur dan memiliki sumber air yang diyakini menyembuhkan, gunung ini menyimpan sejarah panjang dan keindahan alam yang memesona. Namun kini, Gunung Bertuah tak lagi suci dan damai. Luka akibat tambang Galian C telah mengubah wajahnya selamanya.
Tambang Galian C dan Luka di Gunung Bertuah
Aktivitas pertambangan Galian C, yang mencakup penggalian batu dan tanah, menjadi awal dari kehancuran lingkungan di kawasan Gunung Bertuah. Lubang-lubang besar bekas tambang menganga tanpa reklamasi yang layak. Pohon-pohon besar yang dahulu menaungi kawasan itu kini raib, berganti dengan debu dan kerikil. Bahkan, dalam beberapa tahun terakhir, longsor yang terjadi akibat kerusakan tanah mengakibatkan korban jiwa—sebuah tragedi yang masih membekas di benak warga.
“Gunung Bertuah yang menyimpan luka akibat tambang” bukan sekadar perumpamaan, tapi cerminan kondisi nyata di lapangan. Gunung ini tak lagi menjadi simbol ketenangan, melainkan peringatan akan dampak eksploitasi alam tanpa kendali.
Kesakralan yang Terkubur
Salah satu hal yang paling menyedihkan bagi warga adalah hilangnya nilai kesakralan. Di masa lalu, banyak peziarah datang untuk berdoa di situs tertentu di Gunung Bertuah. Bahkan, beberapa komunitas adat rutin menggelar ritual tahunan di sana. Kini, suara mesin dan truk tambang telah menggantikan kidung doa. Banyak tokoh adat setempat menyuarakan keresahan mereka, namun upaya tersebut seringkali tak mendapat tanggapan serius dari pihak terkait.
Dampak Lingkungan dan Sosial
Kerusakan Gunung Bertuah akibat tambang bukan hanya berdampak pada alam, tapi juga sosial-ekonomi warga sekitar. Lahan pertanian menjadi gersang dan sumber air mulai mengering. Penduduk yang menggantungkan hidup dari hasil pertanian terpaksa mencari penghidupan lain. Beberapa bahkan terpaksa ikut bekerja di pertambangan dengan risiko tinggi.
Selain itu, ekosistem satwa lokal pun terganggu. Burung-burung yang dulu hidup di sekitar gunung mulai sulit ditemukan. Keanekaragaman hayati yang pernah menjadi kebanggaan desa, perlahan sirna akibat pengerukan liar.
baca juga: Panduan Pemula: 3 Tips Memilih Open Trip Gunung dari APGI
Upaya Pemulihan dan Harapan Masyarakat
Meski kerusakan sudah terjadi, masyarakat belum sepenuhnya menyerah. Beberapa komunitas lingkungan mulai melakukan upaya rehabilitasi lahan. Penanaman kembali pohon-pohon endemik dan ajakan untuk menjaga kawasan yang tersisa terus digalakkan. Bahkan, dalam diskusi publik yang diselenggarakan oleh aktivis lingkungan, mereka menyerukan moratorium izin tambang baru di wilayah tersebut.
Salah satu contoh nyata bisa dilihat dari program gotong royong pemulihan Gunung Bertuah yang diinisiasi oleh pemuda desa setempat. Program ini mendapat dukungan dari sejumlah organisasi lingkungan nasional seperti Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) yang menyoroti pentingnya perlindungan kawasan adat dan sumber daya alam lokal.
Simbol Luka dan Harapan
Gunung Bertuah yang menyimpan luka akibat tambang kini menjadi simbol dari dua hal yang bertolak belakang: penderitaan akibat keserakahan manusia dan harapan lewat kesadaran lingkungan. Butuh waktu dan keseriusan semua pihak, baik pemerintah, masyarakat, maupun pelaku usaha, untuk mengembalikan fungsi ekologis dan nilai budaya yang pernah dimiliki kawasan ini.
Sebagai bagian dari masyarakat, kita dapat berkontribusi melalui edukasi, pelaporan tambang ilegal, hingga terlibat langsung dalam kegiatan konservasi. Mari jadikan Gunung Bertuah sebagai pelajaran berharga agar kejadian serupa tidak terjadi di tempat lain.